SEJARAH RETORIKA ABAD PERTENGAHAN DAN MODERN

 


 

 

DAFTAR ISI

BAB I. 4

PENDAHULUAN.. 4

A.     Latar belakang. 4

B.     Rumusan masalah. 4

BAB II. 5

PEMBAHASAN.. 5

A.     Retorika Abad Pertengahan. 5

B.     Perkembangan Retorika Modern. 6

BAB III 11

PENUTUP. 11

A.     KESIMPULAN.. 11

DAFTAR PUSTAKA.. 12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar belakang

Berkomunikasi  merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia. Sebelum manusia bisa berbuat apa-apa di dunia, ketika ia baru keluar dari perut ibunya yang pertama kali dilakukan adalah berkomunikasi, ini adalah suatu bukti bahwa komunikasi adalah salah satu kebutuhan mendasar dalam kehidupan manusia.[1]

Komunikasi yang dibahas lebih kusus kepada komunikasi yang menggunakan lisan. Komunikasi yang menggunakan lisan disebut dengan Retorika, walaupun Retorika mempunyai arti yang luas tidak hanya komunikasi dengan menggunakan lisan.

B.     Rumusan masalah

a.       Bagaimanaa perkembangan Retorika pada  Abad Pertengahan?

b.      Bagaimana perkembangan Retorika pada Abad  Modern?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.    Retorika Abad Pertengahan

Sejak zaman Yunani sampai zaman Romawi, retorika selalu berkaitan dengankenegarawanan. Para orator umumnya terlibat dalam kegiatan politik. Ada dua cara untuk memperoleh kemenangan politik: talk it out(membicarakan sampai tuntas) atau shoot it out(menembak sampai habis). Retorika subur pada cara pertama, cara demokrasi. Ketika demokrasi Romawi mengalami kemunduran, dan kaisar demi kaisar memegang pemerintahan, “membicarakan” diganti dengan “menembak”. Retorika tersingkir ke belakang panggung. Para kaisar tidak senang mendengar orang yang pandai berbicara.

Abad pertengahan sering disebut abad kegelapan. Ketika agama kristen berkuasa, retorika dianggap sebagai kesenian jahiliah. Banyak orang kristen waktu itu melarang mempelajari retorika yang dirumuskan oleh orang-orang Yunani dan Romawi, para penyembah berhala.[2] Yang dilarang dalam hal ini adalah para jamaat dan masyarakat tidaak untuk para Pendeta. Seperti yang dinyataan dalam sebuah artikel [3] bahwa ketika kekristenan semakin meluas, muncul banyak retor dikalangan orang Kristen. Mereka adalah bapak-bapak gereja yang turut mengembangkan ilmu kepandaian berbicara lewat khotbah-khotbah didalam Gereja.

Dalam On Christian Doctrine (426), ia menjelaskan bahwa para pengkhotbah harus sanggup mengajar, menggembirakan, dan menggerakkan yang oleh Cicero disebut sebagai kewajiban orator. Untuk mencapai tujuan Kristen, yakni mengungkapkan kebenaran, kita harus mempelajari tekhnik penyampaian pesan.

Suatu abad kemudian, di Timur muncul peradaban baru. Seorang Nabi menyampaikan firman yang artinya: “Berilah mereka nasihat dan berbicaralah kepada mereka dengan pembicaraan yang menyentuh jiwa mereka” (Alquran 4:63).

Nabi Muhammad SAW bersabda, memperteguh firman Tuhan ini, “Sesungguhnya dalam kemampuan berbicara yang baik itu ada sihirnya”.[4]

Ia sendiri seorang pembicara yang fasih dengan kata-ata singkat yang mengandung makna padat. Para sahabatnya bercerita bahwa ucapannya sering menyebabkan pendengar berguncang hatinya dan berlinang air matanya. Tetapi ia tidak hanya menyentuh hati, ia juga mengimbau akal para pendengarnya. Ia sangat memperhatikan orang-orang yang dihadapinya, dan menyesuaikan pesannya dengan keadaan mereka. Ada ulama yang mengumpulkan khusus pidatonya dan menamainya Madinat al-Balaghah(kota Balaghah). Salah seorang sahabat yang paling dikasihinya, Ali bin Abi Thalib, mewarisi ilmunya dalam berbicara. Seperti dilukiskan Thomas Carlyle, “every antagonist in the combats of tongue or of sword was subdited by his eloquence an valor”. Pada Ali Bin Abi Thalib, kefasihan dan kenegarawanan bergabung kembali. Khotbah-khotbahnya dikumpulkan dengan cermat oleh para pengikutnya dan diberi judul Nahj al-Balaghah(Jalan Balaghah).

Balaghah menjadi disiplin ilmu yang menduduki status yang mulia dalam peradaban islam. Kaum muslim menggunakan balaghah sebagai pengganti retorika. Tetapi warisan retorika Yunani, yang dicampakkan di Eropa abad pertengahan, dikaji dengan tekun oleh para ahli balaghah. Sayang, sangat kurang sekali studi berkenaan dengan kontribusi Balaghah pada retorika modern. Balaghah, beserta ma’anidan bayan,masih tersembunyi di pesantren- pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan islam tradisional.[5]

B.     Perkembangan Retorika Modern

Retorika modern diartikan sebagai seni berbicara atau kemampuan untuk
berbicara dan berkhotbah (Hendrikus, 1991); sehingga efektivitas penyampaian pesan dalam retorika sangat dipengaruhi oleh teknik atau keterampilan berbicara komunikator.

Retorika modern harus  disampaikan secara efektif dan efisien dan lebih ditekankan kepada berbahasa secara tertulis, dengan tidak mengabaikan kemampuan secara lisan. Berbahasa secara efektif  diarahkan kepada hasil yang akan dicapai penulis  dan pembaca, bahwa amanat  yang ingin disampaikan dapat diterima dan utuh.

Sedangkan secara efisien dimaksudkan bahwa alat atau cara yang dipergunakan untuk menyampaikan suatu amanat dapat membawa hasil yang besar, sehingga penulis dan pembicara tidak perlu mengulang dan berlebihan dalam penyampaian. Sehingga retorika modern lebih mengedepankan bahasa tertulis tanpa mengesampingkan bahasa lisan.

Abad pertengahan berlangsung selama seribu tahun (400-1400). Di Eropa, selamaperiode panjang itu, warisan peradaban Yunani diabaikan. Pertemuan orang Eropa dengan Islam yang menyimpan dan mengembangkan khazanah Yunani dalam Perang Salib menimbulkan Renaissance. Salah seorang pemikir Renaissance yang menarik kembali minat orang terhadap retorika adalah Peter Ramus. Ia membagi retorika pada dua bagian. Inventio dan dispositio dimasukannya sebagai bagian logika. Sedangkan retorika hanyalah berkenaan dengan elocuito dan pronuntiatio saja. Taksonomi Ramus berlangsung selama beberapa generasi.

Aliran pertama retorika dalam masa modern, yang menekankan proses psikologis, dikenal dengan aliran epistemologis. Epistemologi membahas “teori pengetahuan”, asal-usul, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan manusia. Para pemikir epistemologis berusaha mengkaji retorika klasik sorotan perkembangan psikologi kognitif (yakni, yang membahas proses mental).[6] George Campbell (1719-1796), dalam bukunya The Philosophy of Rhetoric, menelaah tulisan Aristoteles, Cicero, dan Quintillianus dengan pendekatan psikologi fakultas (bukan fakultas psikologi). Psikologi fakultas berusaha menjelaskan sebab-musabab perilaku manusia pada empat fakultas atau kemampuan jiwa manusia:  pemahaman, memori, imajinasi, perasaan, dan kemauan.

Retorika menurut definisi Campbell, haruslah diarahkan kepada upaya “mencerahkan pemahaman, menyenangkan imajinasi, menggerakkan perasaan, dan mempengaruhi kemauan”.Richard Whately mengembangkan retorika yang dirintis Campbell. Ia mendasarkan teori retorikanya juga pada psikologi fakultas. Hanya saja ia menekankan argumentasi yang tepat dan mengorganisasikannya secara baik. Baik  Whately maupun Campbell menekankan pentingnya menelaah proses berpikir khalayak. Karena itu retorika yang beorientasi pada khalayak (audience-centered) berutang budi pada kaum epistemologis –aliran pertama retorika modern. Aliran retorika modern kedua dikenal sebagai gerakan belles lettres(Bahasa Prancis: tulisan yang indah). Retorika belletris sangat mengutamakan keindahan bahasa, segi-segi estetis pesan, kadang-kadang dengan mengabaikan segi informatifnya.[7]

Aliran pertama (epistemologi) dan kedua (belles lettres) teruatam memusatkan perhatian meraka pada persiapan pidato pada penyusunan pesan dan penggunaan bahasa.

Aliran ketiga disebut gerakan elokusionis justru menekankan teknik penyampaian pidato. Dalam perkembangan, gerakan elokusionis dikritik karena perhatian dan kesetiaan yang berlebihan kepada teknik. Ketika mengikuti kaum elokusionis, pembicara tidak

lagi berbicara dan bergerak secara spontan. Gerakannya menjadi artifisal. Walaupun begitu, kaum elokusionis telah berjaya dalam melakukan penelitian empiris sebelum merumuskan “resep-resep” penyampaian pidato. Retorika kini tidak lagi ilmu berdasarkan semata-mata “otak-atik otak” atau hasil prenungan rasional saja. Retorika seperti disiplin yang lain, dirumuskan dari hasil penelitian empiris.

Pada abad kedua puluh, retorika mengambil manfaat dari perkembangan ilmu pengetahuan modern khususnya ilmu-ilmu perilaku seperti psikologi dan sosiologi. Istilah retorika pun mulai digeser oleh speech, speech communication,atau oral communication atau publik speaking. 

Di bawah ini diperkenalkan sebagian dari tokoh- tokoh retorika mutakhir.[8]

1.      James A WinansIa

adalah perintis penggunaan psikologi modern dalam pidatonya. Bukunya, publik speaking,terbit tahun 1917 mempergunakan teori psikologi dari William danE.B. Tichener. Sesuai dengan teori James bahwa tindakan ditentukan oleh perhatian, Winas, mendefinisikan persuasi sebagai “proses menumbuhkan perhatian yang memadai baik dan tidak terbagi terhadap proposisi-proposisi”. Ia menerangkan pentingnya membangkitkan emosi melalui motif-motif psikologi seperti kepentingan pribadi, kewajiban sosial dan kewajiban agama. Cara berpidato yang bersikap percakapan (conversation) dan teknik-teknik penyampaian pidato merupakan pembahasan yang amat berharga. Winans adalah pendiri Speech Communication Assosiation of America(1950)

2.      Charles Henry Woolbert

Ia pun termasuk pendiri the Speech communication Association of America. Kali ini psikologi yang amat mempengaruhinya adalah behaviorisme dari John B. Watson. Tidak heran kalauWoolbert memandang “Speech Communication” sebagai ilmu tingkah laku. Baginya, proses penyusunan pidato adalah kegiatan seluruh organisme. Pidato merupakan ungkapan kepribadian. Logika adalah dasra utama persuasi. Dalam penyusunan persiapan pidato, menurut Woolbert harus diperhatikan hal-hal berikut: (1) teliti tujuannya, (2) ketahui khalayak dan situasinya, (3) tentukan proposisi yang cocok dengan khalayak dan situasi tersebut, (4) pilih kalimat-kalimat yang dipertalikan secara logis. Bukunya yang terkenal adalah The Fundamental of Speech.

3.      William Noorwood Brigance

Berbeda dengan Woolbert yang menitik beratkan logika, Brigance menekankan faktor keinginan (desire) sebagai dasar persuasi. “Keyakinan” ujar Brigance, kepribadian. Logika adalah dasra utama persuasi. Dalam penyusunan persiapan pidato, menurut Woolbert harus diperhatikan hal-hal berikut: (1) teliti tujuannya, (2) ketahui khalayak dan situasinya, (3) tentukan proposisi yang cocok dengan khalayak dan situasi tersebut, (4) pilih kalimat-kalimat yang dipertalikan secara logis. Bukunya yang terkenal adalah The Fundamental of Speech.3)William Noorwood BriganceBerbeda dengan Woolbert yang menitik beratkan logika, Brigance menekankan faktor keinginan (desire) sebagai dasar persuasi. “Keyakinan” ujar Brigance, “jarang merupakan hasil pemikiran. Kita cenderung mempercayai apa yang membangkitkan keinginan kita, ketakutan kita dan emosi kita”. Persuasi meliputi empat unsur; (1) rebut perhatian pendengar, (2) usahakan pendengar untuk mempercayai kemampuan dan karakter Anda, (3) dasarkanlah pemikiran pada keinginan, dan (4) kembangkan setiap gagasan sesuai dengan sikap pendengar.

4.      Alan H. Monore

Bukunya, Principles and Types of Speech,banyak kita pergunakan dalam buku ini. Dimulai pada pertengahan tahun 20-an Monore beserta stafnya meneliti proses motivasi (motivating process). Jasa Monore yang terbesar adalah cara organiassi pesan. Menurut Monore, pesan harus disusun berdasarkan proses berpikir manusia yang disebutnya motivated sequence.[9]

Beberapa sarjana retorika modern lainnya yang patut kita sebut antara lain A. E. Philips (Effective Speaking, 1908), Brembeck dan Howell (Persuasion: A Means of Social Control, 1952 ), R.T. Oliver (Psychology of Persuasive Speech, 1942). Di Jerman, selain tokoh “notorious” Hitler, dengan bukunya Mein Kampf,makan Naumann (Die Kunst der Rede1941), Dessior (Die Rede als Kunst, 1984) dan Damachke (Volkstumliche Redekunst, 1918) adalah pelopor retorika modern juga.

Dewasa ini retorika sebagai public speaking, oral cmmunication, atau speech communicationdiajarkan dan diteliti secara ilmiah dilingkungan akademis. Pada waktu mendatang, ilmu ini tampaknya akan diberikan juga pada mahasiswa di luar ilmu sosial,. Dr. Charles Hurst mengadakan penelitian tentang pengaruh speech coursesterhadap prestasi akademis mahasiswa. Hasilnya membuktikan bahwa pengaruh itu cukup berarti. Mahasiswa yang memperoleh pelajaran speech(speech group) mendapat skor yang lebih tinggi dalam tes belajar dan berpikir, lebih terampil dalam studi dan lebih baik dalam hasil akademisnya dibanding dengan mahasiswayang tidak memperoleh ajaran itu.[10]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.      KESIMPULAN

Saat abad pertengahan retorika mengalami penurunan. Makna retorika menjadi sempit yakni hanya sebatas dan cara penyajiannya saja. Penggunaan hanya banyak digunakan alat khotbah di gereja saja. Tokoh-tokoh yang terdapat pada abad pertengahan lebih banyak pemuka agama yang berkhotbah pada abad itu.

Seiring berkembangnya zaman retorika terus bermetamorfosis hingga memasuki era modern beberapa tokoh politik dan ilmuan sangat berperan dalam perkembangannya. Pada akhir retorika di kenal sebagai seni berbicara yang digunakan proses komunikasi antar manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Bustami Narda. Seni berkomunikasi. cet.2. hal.1

Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, hal.11

 

 



[1] Bustami Narda. Seni berkomunikasi. (Padang:Dede Mustika, 2012) cet.2. hal.1

[2] Jalaludin, ibid, hal.10

[3] http://mempelajariretorika.blogspot.co.id/2015/05

[4] Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, ... p. 11

[5] Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, ... p. 11

[6] Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, ... p. 12

[7] Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, ... p. 14

[8] Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, ... p. 14

[9]Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, ... h. 15

[10]Jalaludin Rakhmat, Retorika Modern Pendekatan Praktis, ... h. 15

 

 

Komentar

Sejarah Perkembangan Retorika Klasik sampai sekarang

JENIS-JENIS PIDATO

Retorika dan Ilmu Khitobah