Teknik Mempersiapkan Naskah Pidato

 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................................... 2

DAFTAR ISI...................................................................................................................... 3

BAB I PENDAHULUAN................................................................................................. 4

A.    Latar Belakang................................................................................................ 4

B.     Rumusan Masalah........................................................................................... 4

C.    Tujuan Penulisan............................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................... 5

A.    Pengertian Pidato............................................................................................ 5

B.     Tahap Persiapan Naskah Pidato.................................................................... 5

C.    Tahap Penyusunan Pidato.............................................................................. 8

BAB III Kesimpulan.......................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................... 12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG

Manusia adalah pengada retorika. Dalam kehidupan sehari-hari manusia dituntut beretorika karena  untuk berbicara baik dalam bermasyarakat. Manusia perlu beretorika agar bertahan hidup bahkan melawan. Oleh karenanya dibutuhkan sebuah teknik berbicara agar manusia mampu menjadi retoris yang baik.

Adapun salah santu bentuk pengaplikasian retorika adalah dengan berpidato. Tidak sedikit orang yang pandai berpidato, namun tidak begitu pandai menerapkan retorika dalam sebuah pidato yang akan dan telah disampaikan.

Pidato yang baik adalah pidato yang sudah dipersiapkan dengan matang, mengenai proses pembuatan naskah pidato, penyusunan naskah pidato dan teknik penyampaian pidato. Dalam makalah ini, akan sedikit dijelaskan tentang penyusunan naskah/teks pidato, yang nantinya dapat kita terapkan ketika akan berpidato.

 

B.     RUMUSAN MASALAH

1.      Apa pengertian Pidato?

2.      Bagaimana tahap persiapan naskah pidato?

3.      Bagaimana tahap penyusunan naskah pidato?

 

 

C.     TUJUAN PENULISAN

1.      Untuk mengetahui pengertian pidato

2.      Untuk mengetahui tahap persiapan naskah pidato

3.      Untuk mengetahui tahap penyusunan naskah pidato

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A.      Pengertian Pidato

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pidato adalah pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditunjukan pada orang banyak. Pidato adalah salah satu media penyampaian pesan yang memegang peranan penting, baik oleh para mahasiswa sampai pejabat negara. Pidato merupakan penyampaian gagasan, pikiran, atau informasi kepada orang lain secara lisan dengan metode-metode tertentu.[1]

Selain fungsi pidato untuk penyampaian pesan dan sebagai alat komunikasi, ada banyak tujuan lain dari pidato. Secara umum ada tiga tujuan pidato, yaitu informatif (memberitahukan), persuasif (mempengaruhi), dan rekreatif (menghibur). Pidato informatif bertujuan untuk menambah wawasan pengetahuan pendengar. Pidato persuasif bertujuan agar orang mempercayai sesuatu untuk melakukannya. Pidato rekreatif bertujuan untuk membuat pendengar terhibur.

B.       Tahap Persiapan Naskah Pidato

1.    Memilih Topik

Sebelum pidato, kita harus mengetahui lebih dulu apa yang akan kita sampaikan, yakni dengan membuat naskah pidato. Dalam membuat naskah pidato, hal pertama yang diperlukan adalah pokok pembahasan (topik) dan tujuan pidato.

Dalam memilih sebuah topik, yang harus diperhatikan adalah topik harus sesuai dengan minat pembuat pidato dan juga harus menarik minat pendengar. Jika seorang pembuat pidato tidak berminat dalam menyampaikan sebuah pidato, orang tersebut juga tidak akan semangat dalam menyampaikannya. Begitu juga jika topik yang disampaikan tidak menarik minat pendengar, mereka akan cepat bosan dan mengantuk.

Maka topik yang harus ditentukan adlah yang sesuai dengan situasi acara.  Setelah mendapatkan topik pidato, alangkah baiknya jika mencari referensi pendukung untuk argumen-argumen, seperti misalnya data-data ataupun fakta-fakta dari bertbagai sumber, ini akan menambah keyakinan pendengar terhadap kualitas pidato yang disampaikan. [2] Adapun kriteria topik yang baik :

a.    Topik harusnya sesuai dengan latar belakang pengetahuan yang kita miliki

b.    Topik harus menarik minat kita

c.    Topik harus menarik minat pendengar

d.    Topik harus sesuai dengan pengetahuan pendengar

e.    Topik harus terang ruang-lingkup dan pembatasannya

f.     Topik harus sesuai dengan waktu dan situasi

g.    Topik harus dapat ditunjang dengan bahan yang lain[3]

2.    Merumuskan Judul

Setelah menentukan topik, langkah selanjutnya adalah membuat judul.Bila topik adalah bahasan yang akan diulas, maka judul adalah nama yang diberikan untuk pokok bahasan tersebut. Judul yang baik harus memenuhi tiga syarat, yakni relevan, provokati, dan singkat.

Relevan artinya ada hubungannya dengan pokok-pokok bahasan. Peovokatif artinya dapat menimbulkan hasrat ingin tahu dan antusiasme pendengar. Singkat artinya mudah ditangkap maksudnya, pendek kalimatnya, dan enteng diingatnya.

3.    Menentukan Tujuan

Ada dua macam tujuan pidato yakni tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum pidato yakni biasa dirumuskan dalam tiga hal:

a.    Informatif (memberitahukan), yaitu ditujukan untuk menambah wawasan  pengetahuan pendengar.

b.    Pidato persuasif (mempengaruhi), yaitu bertujuan agar orang mempercayai sesuatu untuk melakukannya atau terbakar semangat antusiasmenya.

c.    Pidato rekreatif (menghibur), yaitu bertujuan untuk membuat pendengar terhibur. Perhatian, kesenangan, dan humor adalah reaksi pendengar yang diharapkan di sini. Bahasanya bersifat enteng dan mudah dicerna.

Sedangkan tujuan khusus adalah tujuan yang dapat dijabarkan dari tujuan umum. Misalnya dari tujuan menghibur dapat disampaikan ribuan jenis pidato, tetapi apa yang ingin dicapai oleh kita pada saat ini terlihat dari tujuan khususnya. Tujuan khisus bersifat kongkret dan sebaliknya dapat diukur atau dibktikan segera.[4]

4.    Membuat Pembukaan Pidato

Setelah membuat judul dan tujuan pidato, langkah selanjutnya adalah membuat pembukaan pidato. Pembukaan pidato adalah bagian yang takkalah menentukan bagi kesuksesan sebuah piddato, pembukaan pidato baik akan memancing perhatian pendengar, sehingga mereka akan siap mendengarkan isi pidato yang kita sampaikan.

Akan tetapi, pembukaan yang tidak baik akan membuat pendengar langsung mendapatkan kesan bahwa kemungkinan besar isi pidato yang akan kita sampaikan tidaklah menarik.[5]

5.    Mengembangkan Pembahasan

Sebuah pidato dinilai menarik atau tidak, dapat dilihat dari pembahasan. Karena pendengar akan bosan jika pembahasannya itu-itu saja setiap ia mendengarkan pidato. Jika kita mempunyai topik yang sama dengan orang lain, kita bisa mengambil sudut pandang dan pembahasan yang berbeda, yang lebih menarik, sehingga perhatian pendengar bisa dipastikan tertuju pada kita. Hal lain yang perlu diberhatikan terkait isi podato adalah, kita harus bisa menghubungkan antara pidato yang kita sampaikan dengan situasi acara.

Dalam membuat pembahasan, kita harus bisa memasukkan kata-kata yang sederhana dan tidak berbelit-belit, dan tentunya harus sesuai dengan topik dan judul pidato. Selain itu, yang harus kita perhatikan adalah bahasa yang digunakan harus jelas dan sesuai dengan bahasa dan pola pikir pendengar.

Teknik pengembangan bahasan dapat dikelompokkan dalam enam macam, yakni :

a.    Penjelasan, penjelasan yang sempurna selalu menyertakan keterangan penunjang lainnya.

b.    Contoh, contoh dapat berupa cerita yang biasa disebut ilustrasi.

c.    Analogi, yakni perbandingan dua hal atau lebih untuk menunjukkan persamaan atau perbedaannya.

d.    Testimoni, hal ini dapat berupa kutipan pernyataan ahli untuk menunjang pembicaraan.

e.    Statistik, yakni angka-angka yang digunakan untuk menunjukkan perbandingan kasus dalam jenis tertentu.

f.     Pengulangan, pengulangan berfungsi mengingatkan kembali dengan penyajian berbeda.

6.    Membuat Penutup Pidato

Mskipun bertindak sebagai penutup, penutup pidato juga sangat penting untuk diperhatikan. Bayangkan saja bagaimana kita menjaga pidato kita dari awal agar terlihat bagus dan memuaskan pendengar, tetapi semuanya hancur dan menjadi kesan yang buruk karena penutupan yang tidak tepat. Oleh karena itu, selain pembukaan dan isi, penutup pidato juga haru diperhatikan.

Untuk menutup pidato, kita bisa memasukkan kata-kata pujian dan terima kasih kepada audoensi dengan sewajarnya dan tulus (tidak sampai berlebihan karena justru akan terkesan dibuat-buat). Penutup juga bisa dilakukan dengan mengucapkan kalimat-kalimat lucu atau anekdot pendek. Selain itu, cara lainnya adalah dengan melantunkan pantun atau puisi pendek.[6]

C.      Tahap Penyusunan Pidato

1.    Prinsip Penyusunan Pidato

a.    Kesatuan (Unity)

Aristoteles pernah membandingkan komposisi sebagai satu tubuh. Seluruh gubahan harus merupakan kesatuan yang tidak dapat diceraiberaikan, anggota yang satu melengkapi anggota yang lain. Hilangnya satu bagian anggota tubuh menyebabkan bentuk yang rusak dan tidak lengkap. Komposisi yang baik harus merupakan kesatuan yang utuh, ini meliputi kesatuan dalam isi, tujuan dan sifat (mood).

b.    Pertautan (Coherence)

Pertautan menunjukkan urutan dan bagian uraian yang berkaitan satu sama lain. Pertautan menyebabkan perpindahan dari pokok yang satu kepada pokok yang lainnya berjalan lancar. Sebaliknya, hilangnya pertautan menimbulkan gagasan yang tersendat-sendat atau khalayak tidak mampu menarik gagasan pokok dari selurh pembicaraan. Ini biasanya disebabkan perencanaan yang tidak memadai, pemikiran yang ceroboh dan penggunaan kata-kata yang jelek.

c.    Titik-berat (Emphasis)

Titik-berat  menunjukkan pendengar pada bagian-bagian penting yang patut diperhatikan. Hak-hal yang harus dititikberatkan bergantung kepada isi komposisi pidato, tapi pokok-pokoknya hampir sama. Gagasan utama, ikhtisar uraian, pemikiran baru, perbedaan pokok, hal yang harus dipikirkan khalayak adalah contoh-contoh bagian yang harus dititikberatkan, atau ditekankan. Titik-berat dalam tulisan dapat dinyatakan dengan tanda garis bawah, huruf miring atau huruf besar. Dalam uraian lisan, ini dinyatakan dengan hentian, tekanan suara yang dinaikkan, perubahan nada, isyarat dan sebagainya.[7]

2.    Menyusun Pesan Pidato

Adapun menyusun pesan pidato dengan organisasi pesan. Organisasi pesan dapat mengikuti enam macam urutan (sequence): deduktif, induktif, kronologis, logis, spasial, dan topikal.

Urutan deduktif dimulai dengan menyatakan dulu gagasan utama, kemudian memperjelasnya dengan keterangan penunjang, penyimpul­an dan bukti. Sebaliknya, dalam urutan induktif kita mengemukakan perincian-perincian dan kemudian menarik kesimpulan. Dalam urutan kronologis, pesan disusun berdasarkan urutan waktu terjadinya peristiwa. Dalam urutan logis, pesan disusun berdasarkan sebab – ke – akibat atau akibat – ke – sebab. Dalam urutan spasial, pesan disusun berdasarkan tempat. Cara ini dipergunakan kalau pesan berhubungan dengan subjek geografis atau keadaan fisik lokasi. Dalam urutan topikal, pesan disusun berdasarknn topik pembicaraan: klasifikasinya, dari yang penting kepada yang kurang penting, dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang dikenal kepada yang asing.[8]

3.    Membuat Garis-Garis Besar Pidato

Garis-garis besar (outline) pidato merupakan pelengkap yang amat berharga bagi pembicara yang berpengalaman dan keharusan bagi pembicara baru. Garis besar adalah peta bumi bagi komunikator yang akan memasuki daerah kegiatan retorika. Peta ini memberikan petunjuk dan arah yang akan dituju. Garis besar yang salah akan mengacaukan perjalanan pembicaraan, seperti juga garis besar yang teratur akan menertibkan jalannya pidato.

a.    Ciri Garis Besar yang Baik

Garis besar terdiri dari tiga bagian, yaitu pengantar, isi dan penutup. Dengan menggunakan urutan bermotif dari Alan H. Monroe, kita dapat membaginya menjadi lima bagian, yaitu perhatian, kebutuhan, pemuasan, visualisasi, dan tindakan.

b.    Macam-macam Garis Besar

Sesuai dengan tahap persiapan atau pengalaman pembicara, Alan H. Monroe menunjukkan tiga macam garis besar yaitu garis besar lengkap (full­content outline), garis besar singkat(key-word outline), garis besar alur teknis (outline of technical plot).

1)      Garis besar lengkap diperlukan dalam proses pengembangan pidato dan digunakan pembicara yang bukan ahli dalam penyajiannya. Pikiran-pikiran pokok ditulis dengan kalimat-kalimat yang sempurna, dan di bawahnya disertakan lengkap bahan-bahan yang digunakan untuk memperjelas uraian. Dengan membaca garis besar lengkap, orang lain pun dapat mengetahui gambaran isi pidato itu secara keseluruhan.

2)      Garis besar singkat diperlukan hanya sebagai pedoman atau pengingat saja, digunakan oleh pembicara ahli dalam proses penyampaian pidato. Di dalamnya hanya ditulis inti-inti pembicaraan saja. Orang lain mungkin tidak dapat membacanya. Garis besar alur teknis dipergunakan untuk memeriksa dan meneliti teknik-teknik pidato.

3)      Garis besar alur teknis dapat ditulis sejajar dengan garis besar Slengkap diletakkan pada kertas lain. Pada jenis garis besar ini dijelaskan teknik-­teknik pidato seperti gaya bahasa, cara penyajian fakta, daya tarik motif, dan sebagainya. Di bawah diberikan contoh ketiga macam garis besar tersebut.[9]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

Saat kita akan berpidato, kita pasti akan mempersiapkan semuanya, seperti salah satunya penyusunan naskah/teks pidato. Dengan harapan, nantinya pidato kita akan menarik, semua pendengar dapat menikmati kata demi kata yang kita ucapkan. Sebaliknya, jika kita tidak menyusun naskah/teks pidato, bisa saja pidato kita akan membosankan ketika didengar oleh orang banyak, bahkan pendengar tidak ada minat untuk mendengarkan pidato yang sedang kita sampaikan.

 Pada intinya, seseorang yang mampu berpidato dengan baik itu tidak lepas dari  mempersiapkan semuanya dengan sebaik mungkin dan senantiasa belajar berpidato. Tidak mungkin orang yang baru pertama kali berpidato, dan pidatonya langsung bagus. Semua butuh proses untuk menjadi sempurna.


DAFTAR PUSTAKA

Puspita, Ristina Yani. 2014. Cara Praktis Belajar Pidato, MC, dan Penyiar Radio. Yogyakarta: Notebook.

Rakhmat, Jalaluddin. 1998. Retorika Modern. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.



[1] Ristina Yani Puspita, Cara Praktis Belajar Pidato, MC, dan Penyiar Radio (Yogyakarta: Notebook, 2014),  hal. 7.

[2] Ristina Yani Puspita, hal. 20-21.

[3] Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1998), hal. 21-23.

[4] Jalaluddin Rakhmat, hal. 24.

[5] Ristina Yani Puspita, Cara Praktis Belajar Pidato, MC, dan Penyiar Radio, hal. 22.

[6] Ristina Yani Puspita, hal. 25-28.

[7] Jalaluddin Rakhmat, Retorika Modern, hal. 32-34.

[8] Jalaluddin Rakhmat, hal. 35.

 

[9] Jalaluddin Rakhmat, hal. 45.

Komentar

Sejarah Perkembangan Retorika Klasik sampai sekarang

JENIS-JENIS PIDATO

Retorika dan Ilmu Khitobah

SEJARAH RETORIKA ABAD PERTENGAHAN DAN MODERN